Air Mata Kehidupan

Selasa, 30 Oktober 2012

Sabar Rasanya Manis

Dery, Ahmad dan Andra adalah tiga sahabat yang lekat semenjak mereka kuliah di jurusan arsitektur di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung. Setelah mereka bekerja pun, kekompakan itu masih terlihat dengan bekerjasama dalam pekerjaan paruh waktu atau kerja sampingan walau mereka bekerja di perusahaan yang berbeda. Mereka juga punya hobi sama dalam olah raga yaitu tenis lapangan, sehingga lapangan tenis bila hari minggu menjadi ramai dengan canda-canda mereka. 
Tiga serangkai yang sangat disukai di lingkungannya dengan gayanya yang ringan, bertanggung jawab dan sangat kooperatif dalam segala hal kebaikan. 

Diantara mereka bertiga, Ahmad memang kalau dilihat dari penampilan yang paling ketinggalan dari aspek kehidupan ekonominya. Dari raket yang digunakan, kaos yang dikenakan, sepatu yang dipakai sampai datang ke lapangan dengan bersepeda motor terlihat berbeda dengan kedua temannya yang sudah bermobil. Suatu hari di lapangan tenis itu pada pertengahan tahun 2004, Andra membawa selembar kertas print out tentang sebuah lowongan untuk tenaga arsitektur dari sebuah perusahaan nasional ternama. Mereka bertiga antusias membacanya, bahkan tatkala giliran mereka untuk main pun sampai harus dipanggil, diingatkan, dan mereka tergelak oleh kelakuannya sendiri berlari mengambil raket dan bermain mencari peluh.

Beres bermain mereka berkumpul lagi, ketiganya sepakat untuk ikut tes mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Pada minggu pertama mereka testing, lapangan tenis sepi dari canda mereka bertiga, mereka diberi pekerjaan rumah untuk mendisain tata letak sebuah permukiman mewah termasuk model rumah yang akan dibangun secara lengkap. Mereka dipaksa begadang selama empat hari tak diberi waktu untuk bersantai.
Ketiganya lulus saringan pertama, dari 200 peserta, menciut menjadi 50 orang saja. Tapi ketiganya dibuat geleng-geleng kepala, mereka disuruh memperbaiki desainnya dengan nyaris mengganti seluruhnya, ’....ngerjain!!!’ keluh mereka bertiga. Tahap kedua pun mereka lulus dan dilanjutkan dengan tahap ke tiga dengan tugas yang nyaris sama, perombakan total.
Pada minggu persiapan menghadapi saringan tahap ke empat Dery dan Andra memutuskan tidak mengikutinya......’gila, penerimaan karyawan, apa perploncoan....!!!’ seru mereka berdua dengan mengolok-olok Ahmad sebagai pekerja rodi. Sementara Ahmad meski merasa berat masih penasaran mengikuti saringan lanjutannya.
Hampir satu tahun sudah Ahmad tidak kelihatan bermain tenis di tempat biasa. Sampai pada hari minggu saat Dery dan Andra bermain tenis ada mobil terrano king road berhenti parkir di sekitar lapangan tenis, mobil yang tidak familiar bagi para pemain tenis disitu, dengan kaca filmnya yang gelap menambah misterius siapa yang ada di dalamnya.
Semua menanti siapa yang akan turun dari mobil mentereng itu dan mau apa dia datang ke tempat tenis. Dengan berkacamata hitam dan seperti sengaja menengahkan wajahnya dengan sedikit mengulum senyum yang menahan tawa, sosok mesterius itu memasuki lapangan. ’Geloooo...... Ahmad....maneh!!! (gila..... Ahmad..... kamu!!!)’, teriak Dery menyambut temannya dengan salam komando, sementara Andra bengong setengah tak percaya, dan kawan kawan lainnya tersenyum senang melihat Ahmad datang. Dengan berseloroh Andra bertanya, ’Lu bawa mobil bagus begitu, lu nyolong mobil di mana Mad???’. Gelak tawa pun berderai.
Ahmad pun akhirnya menjadi pendongeng kisah perjalanan yang menghilang selama satu tahun itu. Dia menceritakan bahwa saringan yang dia ikuti sampai 6 tahapan. Pada tahap keenam, dia datang dengan puncak kelesuan yang sangat, dia sudah memutuskan mundur bila ada tahapan berikutnya. Ketika gambar-gambar kerjanya mulai diserahkan, dia mulai resah bakal dicoret-coret lagi. Namun betapa pucat dirinya tatkala sang penguji itu bukan mencorat-coret, malah melemparkan gulungan gambar hasil kerja 3 hari 3 malam itu ke meja seolah mencampakannya.
Dan sang penguji yang seperti allgojo itu mengajak Ahmad menemui Presiden Direktur perusahaan. Semakin membingungkan baginya, ada apa lagi, begitu pikirnya tak bisa menduga. Setelah dipertemukan dengan Presdir dan dipersilakan duduk, Presdir itu bilang, ’Kamu diterima, ini kontrak kamu silakan dibaca, kalo setuju teken’. Ahmad membacanya dan terbelalak dengan gaji hampir 10 kali lipat dari yang biasa diterima di kantor lamanya.
Ketika Ahmad membaca draft perjanjian, Sang Presdir menjelaskan filosofi ujian saringannya. ’Sebenarnya para peserta yang lolos ke saringan kedua yang jumlahnya 50 orang secara skill semua telah memadai’, serunya dengan tangan tak henti membuka buka berbagai proposal dan menandatangani beberapa surat. ’Tahapan selanjutnya hanyalah ujian kesabaran, karena perusaan besar seperti ini membutuhkan personel yang tahan uji, punya daya tahan stress yang bagus karena mereka akan bekerja dalam tekanan, ditarget waktu.
Begitu banyak orang hebat ilmunya datang dan pergi di perusahaan ini karena mereka tidak punya kesabaran dalam menjalankan pekerjaannya’, Presdir itu panjang lebar menjelaskan. ’Tugas kamu nanti adalah menjadi konsultan saya untuk memberi masukan apakah sebuah kawasan layak dikembangkan, temanya seperti apa, keunggulan apa yang harus ditonjolkan, dan konsep desainnya bagaimana’, imbuh sang Presdir memberi arahan sekaligus berharap Ahmad memahami misi kepemimpinannya.
’Lalu.... mobil itu?’ tanya Andra. ’Konsep pertamaku untuk sebuah komplek perumahan di Bali sangat memuaskan bos, setelah launching, pemesan sudah berbaris,....terus melihat gue ngantor naik bis kota, eh diberi mobil.....diberi dra, bukan dipinjemin?’ jelas Ahmad puas liat temennya bengong. ’trus sampe hampir setahun ini, kemana aja lu nggak nongol’ tanya Dery. ’Gue di ajak jalan jalan ke eropa, untuk memperluas wawasan aritekturku, great trip,...... dan ini oleh-oleh buat kalian yang tidak sabaran, cukup ini saja’, cerita Ahmad bangga sambil memberikan gantungan kunci dengan tertawa setengah mengolok-olok. ’Makanya sabaaar jadi orang, buahnya bakal manis...’, imbuh Ahmad kepada dua temannya seolah telah menjadi pemenang kehidupan.
Sabar memang salah satu kunci penting untuk sukses. Seseorang memerlukan kesabaran untuk sukses karena jalan kompetisi adalah jalan panjang dengan banyak energi yang harus diperas, sesuatu yang tidak bisa dijalani oleh orang-orang yang tidak memiliki daya tahan. Seseorang memerlukan kesabaran untuk sukses karena perencanaan membutuhkan ketelitian yang harus tersusun berbasis kebutuhan waktu dan keharmonisan antar elemen, sesuatu yang tidak bisa dilakoni oleh orang yang tergesa-gesa.
Kesabaran adalah tahan uji dalam menanggung tanggung jawab yang berat. Kesabaran adalah tidak tergesa gesa dalam bekerja telaten.
Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang disandarkan kepada kesadaran bahwa tugas kita adalah berusaha, dan Allah yang menentukan. Kasadaran akan prinsip berserah diri dan segala lingkup kehidupan adalah ibadah, akan memberi energi yang besar untuk terus berusaha, telaten menyusun kerincian, beramal untuk kesempurnaan dan tak putus asa manakala mendapat kegagalan.
Dengan kesabaran yang berdimensi ibadah ini, segala hasil akan memiliki nilai baginya, ketika sukses dia menggapai keberhasilan ganda dalam dimensi duniawi-ukhrawi, saat dia gagal, boleh jadi sesungguhnya dia telah menggapai kesuksesan hakiki yang bersifat ukhrawi, kerena keiklasannya untuk mendapat ridha-Nya dengan pahala tanpa batas. Bangunlah kesabaran, karena hanya orang-orang yang sabar saja yang usahanya akan berbuah manis, sebagaimana Ahmad yang telah mengecap manisnya kesabaran dalam menggapai tangga-tangga kesuksesan.
source :  http://jackprise.blogspot.com/

Tidak ada komentar: