Air Mata Kehidupan

Senin, 23 Mei 2011

NKRI (Negara KACAU Republik Indonesia)

 Oleh : Rafael Miku Beding (Bank)


Aku ingat hari itu, Senin. Ya, hari pertama dari tujuh hari dalam seminggu, aneka ragam kegiatan sudah tidak asing jika dilihat, seperti yang sekolah kembali bersekolah, yang kerja kembali bekerja, yang main kembali bermain. Namun ada yang berbeda di hari itu, sehingga aku sebut “Senin Hitam.”
Hitam oleh sebagian khalayak dilihat identik dengan suasana duka, kelabu, berkabung, yang intinya menandakan keadaan perasaan yang sedih. Pendefinisian hitam ini, terlepas dari pendapat kebanyakan orang kalau warna hitam itu warna keren, warna ketangguhan seorang pria akan prinsipnya, ataupun yang lainnya. Tapi bukan itu yang aku maksud.
Saat itu aku terduduk di ruang tamu, berpakaian rapih hitam-hitam. Kaos hitamku bertuliskan NKRI “Negara Kesatuan Republik Indonesia,” aku lapisi dengan kemeja lengan panjang hitam. Bertambah gagah dengan pin siluet wajah “Soekarno” yang aku pasang tepat di dada kananku, Celana Jeans dan sepatu yang aku kenakan tidak juga luput dari hitam. Sebentar-sebentar aku berdiri memandangi cermin, lalu tersenyum sambil mengucapkan “gagah sekali aku ini. Biarpun seperti mau melayat, tapi aku senang, Ini keren sekali.”
“Padahal aku hanya ingin menonton pertunjukan teater, cuman penampilan sudah seperti mau ngelayat. Biarlah, yang penting syarat dresscode untuk menonton pertunjukan, sudah terpenuhi.” Ucapku sebelum berangkat ke pertunjukan.
Aku duduk di bangku tengah, pertunjukan 10 menit lagi akan dimulai, menunggu pertunjukan dimulai aku membaca buku pegangan pertunjukan, yang sudah ada di tangan kananku. “NegeriKu Kacau, #NegeriDagelan” ucapku dalam hati membaca judul pementasan yang sebentar lagi akan aku saksikan.
Perasaan penasaranku saat itu sudah meluap-luap, benar-benar tidak sabar ingin segera menonton pertunjukan ini. Pandangan mataku sepintas teralih beberapa menit, melihat kearah pintu masuk gedung pertunjukan. Segerombolan orang berpakaian necis, tapi anehnya tidak “hitam-hitam” sama seperti aku dan penonton lainnya, terlihat mereka mengenakan setelan batik. Aku mengenal 2 orang dari gerombolah orang tersebut, yang pertama “Pak Beye.” Orang kedua tidak mengenakan batik, tapi mengenakan seragam polisi dengan bertabur banyak lencana di kemeja cokelat mudanya, “Pak Kumis.” Benar dugaanku, mereka yang menduduki jejeran kursi VVIP yang sejak tadi Nampak kosong.
Gong sudah terdengar berbunyi 3 kali, menandakan pertunjukan segera dimulai. Benar saja, tirai di panggung terbuka, lampu padam, keadaan gelap seperti saat menonton di bioskop. Yang bercahaya hanya di atas panggung, itupun nampak remang-remang.
Isak tangis dari penonton secara perlahan terdengar, memang aku akui pertunjukan teater itu bukan main menyayat hati. Padahal ini baru sekmen pertama. Miris melihatnya, aku yang awalnya bertekad untuk tidak menangis, tidak mampu menahan luapan air mata yang sudah membendung saat menyaksikan teater menghidupkan suasana perekonomian di Indonesia.
Ingatkah bahwasannya para pendiri negara ini membangun fondasi perekonomian kita dengan sistem ekonomi kerakyatan ? ekonomi yang berpusat pada rakyat Indonesia secara seutuhnya dan seluruhnya. Lalu, pertanyaannya apakah itu kita rasakan sekarang ?
Utang luar negeri yang semakin meninggi, semakin melilit perekonomian negara ini, apa ini pertumbuhan ekonomi yang dimaksud ? dimana pemerintah sekarang membangga-banggakan angka diatas kertas yang menyatakan perkembangan ekonomi Indonesia semakin membaik, Indonesia akan menjadi negara pusat perekonomian dunia saat 2025 nanti. Semua itu BOHONG ! lihat kenyataannya. Rakyat yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Lihat banyak yang mati akibat tidak mampu membeli beras, mati keracunan memakan tiwul. Harga cabe melonjak tajam, harga minyak dunia akibat gejolak politik Mesir menukik tajam.
Harga yang melambung tinggi berbanding terbalik dengan daya beli masyarakat yang tetap “stuck” pada posisi itu, tidak mampu membeli, ya sudah. Itukah yang dinamakan pertumbuhan ekonomi kita sehat ? kondisi pertumbuhan ekonomi tidak bisa diukur hanya dari data statistik saja, cobalah terjun ke desa-desa terpencil, ke kampung-kampung pedalaman, ke kolong-kolong jembatan, tengok mereka. Ada kesenjangan disini yang begitu hebat antara kaum berduit dengan gaya hidup hedon, dengan mereka masyarakat marginal kebawah yang tinggal menunggu hari, mati karena kekurangan gizi ataupun karena kelaparan. Pertumbuhan ekonomi kita bagaikan borok yang semakin lama bukan malah membaik, tapi malah melebar bertambah besar dengan nanah dan lendir dimana-mana, dikerubuni lalat pula. Tingkat busung lapar meninggi, fakir miskin makin bertambah pesat perkembangannya, penerima beras raskin semakin panjang antriannya.
Inilah potret kelam pertumbuhan ekonomi kita yang dibangga-banggakan oleh negara. SDM kita banyak, namun sayang mereka semua terdampar di negeri orang tanpa kelanjutan cerita yang jelas. Kita hanya kebagian “kisah-kisah ending” yang menyakitkan dari banyak TKI: disiksalah, dibunuhlah, diperkosalah. Sama dengan permasalahan SDA kita, yang hingga detik ini menjadikan sebuah tanda tanya besar, apakah kita ini negara produsen ataukah negara konsumen yang hanya tahu mengandalkan produk-produk dari luar negeri ? dimanakah status negara kita yang dipandang sebagai negara yang kaya akan Sumber Daya Alamnya ?
Pertunjukan itu sungguh sangat mencerminkan keadaan bangsa Indonesia saat ini. Apa yang mereka lakonkan amat sempurna, selanjutnya pada sekmen kedua digambarkan lebih lanjut ada sekelompok orang berperan sebagai masyarakat melarat, menangis darah sambil mengelilingi beberapa orang bergaya parlente namun menggunakan topeng kepala tikus, mereka adalah gambaran sosok para koruptor yang terus-terusan tersamarkan status hukumnya. Berkeliaran bebas tanpa ada kepastian hukum yang menangkap mereka. Bertambah ironi, dengan hadirnya orang-orang yang aku tahu pasti adalah aparat penegak hukum. Mereka semua berada di lingkaran terluar kerumunan orang yang menangis darah tadi, para aparat penegak hukum justru menari-nari bebas, mereka malah bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang, mabuk-mabukan, sama sekali tidak memiliki wibawa. Justru dalam akting lanjutannya, para koruptor tadi bersama para parat penegak hukum berpesta bersama, menari-nari, berjoget ria, sementara masyarakat terus menangis darah, bingung mau mengadukan nasib mereka kemana.
Korupsi di Indonesia sudah terkonsolidasi secara baik dan rapih. Bukan lagi tersentralisir di pusat pemerintahan tapi juga sudah terdesentralisir ke daerah-daerah. Sungguh prestasi yang harus dibanggakan oleh negara ini. Uang menjadi alat penutup mulut yang paling ampu ketika para koruptor sudah terjerat dalam perangkap hukum. Jangankan fasilitas sel mewah, bebas bersyarat pun bisa, bebas karena sakit parah, bebas karena lupa ingatan, semuanya bisa terjadi dalam parodi hukum di negara ini.
Ada dua adegan yang sedikit menggelitik perut saya, pada sekmen ini. Pertama, ketika diperagakan pelantikan dewan pemerintahan daerah oleh seorang narapidana kasus korupsi yang merugikan negara hingga miliyaran rupiah, berikutnya adalah adegan KPK diusir oleh DPR dalam sidang yang mempertemukan kedua instasi tersebut. Tingkah laku mereka bagaikan anak TK saja, bukannya mengurusi hal pokok pertemuan itu, tapi malah meributkan masalah sepele menyangkut pendeponeringan 2 pemimpin KPK tersebut. Inikah kerja orang-orang yang bekerja mengatasnamakan sebagai wakil rakyat ?
Menjadi sebuah paraoid ketika para anggota dewan pemerintahan malah memanfaatkan jabatan mereka sebagai alat pengangkat status sosial mereka di mata masyarakat. Membangga-banggakan jabatan mereka kepada sanak saudara dan teman-teman mereka, lalu lupa menjalankan amanat rakyat. Tidak ada dalam kamus hidup mereka akan pepatah dari Haji Agus Salim bahwa “Memimpin itu Menderita.” Sibuk mementingkan studi banding sebagai alasan untuk plesiran ke negeri tetangga, atau curhat meminta kenaikan gaji, semua ini fakta dilapangan yang menohok hati rakyat ketika melihatnya.
Pementasan teater tersebut ternyata hanya terdiri dari tiga sekmen, dimana sekmen terakhirlah yang menurut ku paling miris, ironi, dan tragis. Cerita yang dimainkan sebenarnya merupakan skenario lama yaitu menyangkut Hak Asasi Manusia dan Keanekaragaman Cultur di Indonesia. Bukan baru pertama kali, Negeri ini harus menangis darah atas perbuatan oknum-oknum yang tidak menyadari arti harafiah dari Pluralisme yang bertumbuh di tanah pertiwi ini.
Perang antar suku, Perang antar agama, Gerakan Organisasi Premanisme yang mengatasnamakan agama, merupakan hal-hal yang tidak lagi tabu dalam kebidupan masyarakat. Telinga masyarakat seakan-akan banal jika lagi dan lagi mendengar kasus-kasus menyangkut keberagaman budaya terjadi terus menerus-menerus tanpa jalan keluar yang mumpuni.
Negara ini kian terbukti gagal mensejahterahkan rakyatnya. Tidak ada lagi kata “merdeka” yang dapat diucapkan oleh masyarakat sekarang ini dalam kehidupan mereka. Yang ada sorak sorai meneriakan yel-yel agama selagi memporak-porandakan rumah, membakar mobil, membakar gereja, menikaman orang, mengusiran orang yang sedang beribadah, menutup panti asuhan, parahnya lagi semakin lantang diteriakan saat merampas paksa nyawa orang. Sungguh keji, dan terkutuk.
Aku sampai tidak berani melihat aksi di sekmen terakhir ini, apalagi saat ada adegan sekelompok massa datang dengan bambu runcing di tangan, batu bata, batu kali pada genggaman tangan mereka, tidak luput juga golok panjang nan tajam, mereka mendatangi sebuah rumah milik jemaat suatu kepercayaan berkumpul, jemaat itu jelas kaum minoritas. Yang hanya dapat dilakukan adalah menatap pasrah rumah mereka dibakar, mobil mereka juga dibakar, dan 3 nyawa juga ikut melayang. Dimanakah negara ? dimana negara saat kami membutuhkan pertolongan ? yang ada hanya dua orang polisi ikut menonton aksi ini, tanpa melindungi kami. “Kami hanya beribadah dengan cara yang berbeda, salahkah kami ?”
Ironisnya kejadian tersebut terjadi saat Indonesia merayakan pekan kerukunan umat beragama.
Pementasan teater itupun akhirnya selesai. Tirai di pangungpun kembali tertutup, suasana menjadi cerah kembali, ketika lampu dinyalakan. Namun ternyata acara belum selesai sampai disitu, ada sedikit tambahan yaitu mendengarkan sepatah kata dua dari Pak Beye dan Pak Kumis. Dalam benakku, jarang-jarang bisa mendengarkan Pak Beye mengomentari suatu pertunjukan secara langsung.
Sayangnya kesempatan pertama bukan kepada Pak Beye, melainkan kepada Pak Kumis. Sangat beribu kecewa luar binasah mendengar komentarnya yang hanya terpaut kata “PRIHATIN DAN MENGECAM !!” aku melihat penonton sekitar tidak bereaksi apapun, nampak ada ekspresi yang ditahan.
Kesempatan Pak Beye pun Tiba. “saya pribadi sungguh sangat kecewa akan peristiwa yang digambarkan tadi, saya pun turut PRIHATIN akankejadian tersebut. Tidak hanya itu, perbuatan itu saya nilai sangat keji. Sehingga saya MENGECAM tindakan seperti itu !! nanti saya akan melakukan evaluasi. Terima kasih dan salam ..”
Seusai Pak Beye mengucapkan salamnya, serentak penonton tertawa sekencang-kencangnya, rupanya ekspresi ini yang ditahan oleh mereka, aku pun ikut tertawa sekencang-kencangnya. Rasa ketawa tadi perlahan berubah menjadi tangisan miris ketika melihat pak Beye, Pak Kumis dan gerombolannya meninggalkan Gedung pertunjukan tersebut. Sedih, Miris, Ironi, Tragis.
Inikah tindakah yang pantas bagi seorang kepala negara ? terbatas hanya #PRIHATIN dan #MENGECAM ?
Hak Asasi Manusia adalah Hak yang dimiliki oleh segenap manusia ketika ia dilahirkan di muka bumi ini. Hidup adalah suatu kebebasan, bebas untuk menghirup udara penghidupan, bebas pula menentukan arah hidup. Dan manusia tidak berhak untuk mencabut kehidupan tersebut. Manusia tidak memiliki hak untuk mencabut nyawa manusia lain. Manusia juga tidak berhak menentukan suatu ajaran kepercayaan itu benar atau salah. Kita semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan jalan hidupnya masing-masing yang tentunya saling berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi manusia tidak berhak mengatur jalan hidup manusia yang lainnya.
Banyaknya kepercayaan yang ada di masyarakat merupakan wujud dari pluralisme yang konkrit. Memang negara ini mengakui adanya lima agama besar yang ada di Indonesia. Namun bukan berarti Negara lepas tangan lalu tidak melindungi umat-umat / jemaat-jemaat lain yang masuk dalam kepercayaan-kepercayaan kecil lainnya. Perlu dicatat, sekalipun ada seorang penjahat lalu ia Atheis, negara tetap HARUS melindunginya tanpa terkecuali.
Mulai dari yang BERAGAMA sampai yang TIDAK BERAGAMA sekalipun, statusnya sama. Yaitu sama-sama menghuni Tanah Pluralisme ini, dimana tertulis jelas dalam Undang-Undang bahwa Negara menjamin hajat hidup orang banyak, Negara menjamin kebebasan beragama, Negara melindungi Hak Asasi Manusia.
Rasa-rasanya lebih aman hidup di masa Orde Baru terlepas dari segala kontroversinya. Tidak ada tindakan-tindakan yang mengarah kepada vandalisme, tidak ada tauran, semuanya aman terkendali. Semua karena fungsi negara berjelan lancar. Fungsi kantibnas yang dipegang angkatan darat TNI terbukti lebih ampu menangani segala jenis masalah sosial yang ada, ketimbang sekarang, polisi malah menjadi penonton dari suatu aksi kekerasan. Namun inilah pil pahit yang mau tidak mau harus kita telan.
Aku mengusap air mata yang jatuh membasahi kedua pipiku. Kembali merenungi kelamnya hidup di Negara ini untuk saat ini, sampai kapan ini terus terjadi. Aku menunduk melihat ke arah pin “Soekarno”ku, ternyata tanpa aku sadari air mataku juga jatuh membasahi pin itu. Namun terlihat seperti Soekarno juga ikut menangis. Pasti dia bertanya “Kau kemanakan amanat ku ? masih ingat dengan perkataanku ? Kutitipkan Negeri ini kepada kamu hai generasi penerusku ..” tapi kenyataannya ?
Rasanya tidak sulit membayangkan wajah republik dan tampilan demokrasi kita kedepan, jika hal-hal seperti ini tidak ditangani serius sampai tuntas. Suram, kelam, dan remang-remang. Eskalasi kekerasan meningkat, intoleransi dalam cara hidup sehari-hari merajalela, sementara situasi ekonomi dan hukum belum mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan yang merata.
Inilah Akhir dari “Senin Hitam” ku. Dapatkah kalian mengerti apa maksudnya ?



Tidak ada komentar: